news and press releases

ANTUSIASME

10 August 2015

Hampir semua orang merasakan kelesuan ekonomi dan pasar belakangan ini. Bahkan datangnya bulan Ramadhan yang biasanya bisa memberikan angin segar karena kebutuhan masyarakat yang biasanya cukup tinggi di bulan ini pun rupanya belum mampu menunjukkan angka yang menggembirakan. Hal ini bukan sekedar dirasakan oleh para wirausaha, tetapi juga karyawan. Belum lagi tekanan dunia luar yang selalu menyebut negara kita sebagai the most important emerging country, menyebabkan dunia luar berbondong bondong masuk, dengan segenap teknologi dan pengetahuan mereka yang bisa jadi lebih maju dari kita. Tekanan yang bertubi-tubi ini seperti tidak memberikan ruang gerak bagi kita untuk bernafas. Padahal rasanya kita sudah going extra miles lebih dari biasanya. Batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi sudah semakin menipis, keluarga bisa jadi mengeluh akibat waktu bersama mereka yang semakin lama semakin berkurang. Tekanan – tekanan seperti ini, sering mendominasi persepsi kita, membuat kita lupa pada kekuatan dan simpanan enerji yang justeru  bisa mengembangkan ‘kekuatan profesional’ dan daya saing kita. Sebagai manusia, seharusnya kita tidak mungkin kehilangan rasa haus akan perkembangan, apalagi pengetahuan dan pengalaman. Namun dengan tuntutan pekerjaan, kualitas, juga kepuasan pelanggan, terkadang kita lupa menghidupkan api semangat ini. Kita bisa kehilangan fokus akan apa yang seharusnya penting, dan menyusun strategi yang tepat.  Alih-alih berinovasi,  kita malah terjebak pada sikap reaktif semata yang ujung-ujungnya dapat mengakibatkan hilangnya semangat.

Fire, Focus, dan Faith
Alan Fine, seorang psikolog, mengingatkan kita bahwa manusia normal mempunyai 3 unsur F yang sangat penting untuk terus berkembang, yaitu: faith, keyakinan,  fokus dan fire, yaitu api semangat. Sebagai profesional yang berakal budi, sewajarnyalah kalau kita senantiasa ‘bermain otak’ dalam setiap usaha untuk mencapai tujuan. Namun kita tidak boleh lupa akan kekuatan kepercayaan, fokus dan motivasi yang menciptakan dan memproduksi enerji kita.  Itulah sebabnya, kita perlu yakin bahwa pekerjaan kita ini memang membawa makna diri yang tepat. Ada yang mengatakan bahwa people dont leave because things are hard, they leave because it’s no longer worth it. Nilai pekerjaan perlu dikaitkan dengan prinsip hidup kita, terutama saat-saat kita mengalami kesulitan ataupun dilema dalam sebuah persimpangan. Kita mempertanyakan, apa yang kita anggap penting,  apa yang kita bela, demi apa kita bekerja, nilai apa yang kita pegang saat itu. Kita perlu untuk bisa mengatakan pada diri sendiri, bahwa tanggung jawab yang berat atau yang bahkan bertambah justru membawa nilai yang positif dalam hidup kita. Begitu keyakinan kita mantap barulah kita bisa menentukan fokus jangka pendek dan jangka panjang serta memperkuat konsentrasi agar hal yang kita kerjakan benar – benar membawa hasil yang nyata, terlihat dan terasa. Faith dan focus yang tepat akan membangkitkan fire, motivasi kita sedikit demi sedikit. “Sense of importance’ kita akan tumbuh, dan hal inilah yang akan mendorong kita untuk kembali melipatgandakan enerji untuk maju.

Evolusi Kerja Sejalan dengan Evolusi Industri
Tidak ada industri yang statis. Industri keuangan bukan monopoli industri perbankan saja, demikian pula industri telekomunikasipun sudah disusupi oleh perdagangan dan industri kreatif lainnya. Kerja, karenanya juga tidak bisa statis. Tidak ada pekerjaan tanpa ide baru, kemajuan teknologi maupun pergantian personel. Kalau cara kerja dan cara pandang kita tidak sejalan dengan evolusi yang terjadi di industri, otomatis kita akan tergilas oleh pihak-pihak yang lebih revolusioner. Sayangnya masih banyak orang yang berfikiran bahwa untuk menambah pengetahuan dan ketrampilan, ia perlu melakukannya secara formal. Tidak jarang individu menyalahkan organisasi yang tidak mengalokasikan budget pelatihan maupun seminar untuk mereka. Padahal hanya dari membuka mata lebar-lebar dan menajamkan daya observasi saja, kita bisa mengamati, belajar  dan mem’bench mark’ apa yang dilakukan oleh orang lain. Education is practical.  Kita bisa belajar dari rekan kerja, kompetitor, bahkan mungkin orang-orang di sekitar kita yang tidak ada hubungannya sekalipun dengan kita. Kita tidak boleh lupa bahwa kitapun perlu memperbaiki praktek kita. Saat sekarang kesempatan untuk  memberi ‘added value' pada pekerjaan kian mudah. Menyamakan visi dan tujuan kerja tidak perlu dilakukan di raker-raker yang berongkos tinggi. Kita bisa menciptakan grup on line dengan mudah sehingga komunikasi bisa terjadi dengan cepat, bahkan ‘real time’. Berganti alat kerja, menggunakan perangkat lunak baru, belajar menggunakan bahasa lain dalam komunikasi juga termasuk hal-hal yang mengundang perubahan. Meskipun pekerjaan kita sebenarnya sama seperti biasanya, kita tetap dapat melakukan pendekatan baru yang berbeda dan tentunya juga akan memberikan hasil yang berbeda. Ingat terus bahwa “if you act enthusiastic, you will become enthusiastic”

Sumber: EXPERD CONSULTANT - http://www.experd.com

« Back to News